Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

HIDUP KERAS PAK UDIN

SENIN (13/6) – Keseharian para pekerja berat seperti pekerja bangunan erat dengan rokok, kopi, minuman berenergi, dan porsi makan yang besar. Hal itu pula yang dialami oleh Bapak Samsudin (49) selama 30 tahun terakhir. Bedanya, Pak Udin – sapaan akrabnya –  tidak pernah makan banyak seperti teman-temannya. “Beda dengan saya, Neng. Dia (Pak Udin) mah kalau makan sedikit dan pilih-pilih. Malah ngerokok dan ngopinya yang kuat,” ujar istrinya, Anah (50), kepada redaksi. Kebiasaan ini bisa nampak dari perawakan Pak Udin yang kurus.

Dan memang penelitian membuktikan bahwa merokok bisa menekan nafsu makan. Pada otak terdapat senyawa kimia yang dikenal dengan neuropeptide Y (NPY), yang dapat mengatur nafsu makan. NPY secara normal berfungsi untuk meningkatkan selera makan pada otak. Asap rokok dapat menurunkan kadar NPY dalam hypothalamus di otak mereka, terutama bagian otak yang merespon selera makan, sehingga penerima asap rokok akan mengalami penurunan selera makan. Oleh karenanya para perokok sering mengalihkan selera makan mereka kepada minuman berkafein seperti kopi dan minuman berenergi. Senyawa kafein ini menambah resiko gangguan pencernaan setelah pola makan yang diganggu akibat rokok tadi.

Pola hidup seperti ini tentunya akan menurunkan kualitas hidup pelakunya, Pak Udin salah satunya. Sudah empat hari beliau dirawat di ruang Al-Aziz RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Malam Jumat jam 10 malam kemarin, Pak Udin dibawa oleh tetangga ke IGD dalam keadaan lemah tak berdaya. Perutnya kala itu membengkak, ditambah mual dan muntah-muntah. “Kali kedua bapak drop, anak-anak dan tetangga sekitar sudah ngerumunin bapak waktu itu. Ibu sudah takut bapak kenapa-napa aja. Soalnya bapak pernah pendarahan juga dari anus dan saluran kencingnya,” ucap istrinya lirih. Diagnosa dokter menyebutkan Pak Udin menderita Chronic Kidney Disease atau gagal ginjal dan dispepsia atau gangguan pencernaan.

Rupanya kondisi parah itu disebabkan salah satunya karena Pak Udin luput dari jadwal cuci darah pekan yang lalu. “Kami ga punya ongkos, Neng. Ke sana tiga kali naik angkot. Ibu kadang suka rela ngirit makan, buat nabung biaya bapak pergi ke rumah sakit untuk cuci darah,” tutur Bu Anah. Sebelum menjadi member dan dirawat di RS Rumah Sehat Terpadu DD, Pak Udin berobat ke rumah sakit di Jakarta dan mendapatkan layanan cuci darah di salah satu rumah sakit di bilangan Gandul. Sudah tujuh bulan lamanya beliau mendapatkan perawatan hemodialisa (cuci darah) setiap hari Selasa dan Jum’at. “Alhamdulillah, kalau di sini walau jaraknya hampir sama, lebih hemat dua kali naik angkot. Dan perawatnya juga bilang bisa dapat layanan antar jemput ambulans dari Dompet Dhuafa,” ucap Anah dengan tersenyum.

Pekerjaan sebagai buruh bangunan ini ternyata dilakoni oleh Pak Udin, juga oleh dua orang anaknya dan seorang menantunya. Takjubnya, salah seorang dari anaknya itu adalah seorang perempuan. Namanya Desi, usianya 20 tahun. “Dia memang tomboy. Dia mau ngangkat-ngangkat berat, dorong-dorong semen. Meskipun tomboy, dia sayang sama keluarganya. Dia mau kerja buat bapak katanya. Semenjak bapak sakit,  bapak udah ga kerja bangunan lagi. Desi juga, alhamdulillah dia udah dapat kerjaan yang lain. Kemana-mana yang ngurusin bapak dirawat, Neng,” tambah Anah. Pak Udin dan Bu Anah dikaruniai empat orang anak, dua diantaranya dudah bekeluarga. Tetapi, kedua anak tertuanya pun belum bisa diandalkan untuk membantu perekonomian, dikarenakan pekerjaannya pun masih buruh kasar galian pasir. Ibu Anah sendiri tidak bekerja, dikarenakan kesehatannya pun kurang baik. Kakinya sering sakit karena asam urat. Darah tingginya pun kadang kambuh sampai 200 mmHg sistole. Sesekali raut wajah Ibu Anah terlihat sedih. Beliau merasa tidak punya siapa-siapa selain Desi.

Harapan Ibu Anah sekarang sederhana, yaitu suaminya bisa cuci darah rutin dan anak-anak serta dirinya bisa sehat. Keluarga Pak Udin pun sudah mengeri pentingnya pola hidup sehat. Walaupun hidup dalam keadaan ekonomi berkekurangan, hidup sehat tetap diutamakan. Hidup sehat mulai dengan menjauhi rokok dan kecanduan minuman berkafein serta mengatur asupan makanan. Gizi baik tidak harus mahal, protein nabati seperti tahu dan tempe dapat menjadi alternatif sumber protein hewani. Pekarangan rumah pun dapat menjadi sumber pangan keluarga, seperti yang dilakukan oleh keluarga Pak Udin ini. “Alhamdulillah, di rumah (halamannya) semuanya ibu tanam, mulai dari buah-buahann, bumbu dapur, sampai obat tradisional ada di sana. Kalau perlu, tinggal petik,” Ibu Anah bercerita tentang kebiasaan dia dan menantunya yang sering meramu obat-obatan sendiri dari tanaman di pekarangannya. (das)

729 total views, 1 views today