Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SAAT BESAR NANTI MALIK INGIN BISA MENDENGAR, IBU

Waktu Malik lahir, sang bidan hanya bilang, “Bu, daun telinga anak ibu kelipet. Tapi tak apa.” Muhammad Malikiyas Dika, anak kedua dari pasangan Erna (28) dan Liyas (35) lahir pada tanggal 24 Oktober 2015. Bayi laki-laki ini lahir prematur. Seminggu kemudian ia pun mengalami penurunan berat badan dari 2,3 kg ke 1,9 kg. Puskesmas menyarankan agar Malik dirawat di dalam inkubator, karena badannya menguning akibat kadar bilirubinnya meningkat. Tiga bulan kemudian, sang ibu mulai menyadari ada yang lain dari putranya. Malik dirujuk ke rumah sakit di bilangan Jakarta agar segera ditangani oleh dokter THT. Dokter memberikan diagnosa bahwa Malik menderita microtia di kedua telinganya. Sedih tentunya perasaan seorang ibu yang melihat anaknya tumbuh tanpa daun dan lubang telinga. Senyum kakaknya, Dian (7), terkadang menjadi pelipur lara saat ceria bermain dengan adik kecilnya.

Mikrotia terbentuk dari dua kata yaitu micro yang artinya kecil dan otia yang artinya telinga. Sehingga microtia didefinisikan sebagai bentuk telinga luar yang kecil, abnormal, atau bahkan suatu kondisi tanpa adanya telinga luar. Jika terjadi pada satu telinga disebut unilateral microtia, sedangkan jika terjadi pada dua telinga disebut bilateral microtia. Bentuk unilateral lebih banyak terjadi jika dibandingkan dengan yang bilateral (kurang lebih 90% angka kejadian mikrotia adalah unilateral).

Grade mikrotia pada anak

Grade mikrotia pada anak

Mikrotia biasanya mulai berkembang sejak anak dalam kandungan, khususnya di semester pertama, dimana sedang terjadi pembentukan organ. Namun, sampai sekarang alasan kenapa hal ini bisa terjadi belum bisa dijelaskan dengan pasti secara ilmiah. Erna pun tidak merasakan hal yang aneh saat mengandung Malik. Menurut perkiraan medis sendiri, kondisi ini bisa dipicu karena penggunaan obat-obatan pada trimester pertama kehamilan, adanya faktor genetik atau pengaruh dari lingkungan. Mikrotia bisa dijadikan satu alasan untuk seorang ibu melakukan pemeriksaan komprehensif pada bayinya, untuk mengetahui ada atau tidaknya kegagalan pembentukan di organ lain selama kehamilan.

Menurut data National Deaf Children Society (NDCS), mikrotia lebih sering terjadi pada anak laki-laki, dan hanya terjadi pada satu telinga saja. Telinga kanan lebih sering mengalami microtia dibandingkan telinga kiri. Malik menjadi seorang bayi dari 8000-10000 bayi yang lahir mengalami kondisi mikrotia, dan 1 dari 10 anak dengan microtia mengalami mikrotia di kedua telinga.

Malik lahir normal, saat lahir pun ia menangis seperti bayi pada umumnya. “Sekarang saya sendiri  belum tahu nanti Malik besar seperti apa. Kata dokter, Malik harus dipasang alat bantu dengar supaya bisa mendengar,” tutur Erna. Kekhawatiran Erna mengingat perkembangan fungsi bicara tentunya dipengaruhi oleh kemampuan dengar dan melihat. “Kalau hanya sebelah telinga, saya mungkin masih bisa menunda pengobatan Malik. Tetapi, yang terjadi pada anak saya adalah kedua telinganya tidak dapat mendengar. Ketika perawat memperkirakan biaya pemasangan alat itu sebesar Rp 14 juta, saya dan suami juga bingung. Sebagai orang tua, kami hanya ingin anak kami dapat tumbuh sehat dan normal,” sahut Erna dengan lirih. Mungkin saat ini Malik masih bisa bermain ceria dengan kakaknya, bermain gerakan tangan, kaki, dan mimik senyum. Tetapi  saat dia besar, tentu indera pendengarannya akan sangat dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Membayangkan biaya pengobatan Malik, Erna tidak bisa berharap banyak dari penghasilan suaminya yang bermatapencaharian sebagai buruh lepas harian. Pendapatannya tidak menentu per bulannya. Jikapun ada pekerjaan kuli bangunan, upahnya Rp 90 ribu per hari. Di rumah berukuran 50 meter persegi di kawasan Gandul, Cinere, Depok, keluarganya tinggal berbagi ruang dengan keluarga saudara suaminya. Di sela-sela waktu berobat ke dr. Winda, Sp.A di RS Rumah Sehat Terpadu DD, Erna bercerita kepada redaksi Humas sambil menggendong Malik yang sedang demam., “Dulu sebelum bulan puasa, saya suka berjualan jajanan anak di depan rumah untuk bantu suami sedikit-sedikit. Untuk beli susu Malik, Mba. Sedari kakaknya, ASI saya ga keluar. Sudah banyak cara saya coba, tetapi tidak berhasil. Sekarang, pikiran kami bertambah ke pengobatan Malik.”

Pemasangan alat bantu dengar pada penderita mikrotia

Pemasangan alat bantu dengar pada penderita mikrotia

Pada anak-anak yang terlahir dengan mikrotia pada kedua telinganya harus ditangani dengan lebih khusus. Rekonstruksi telinga luar sebaiknya segera dilakukan. Dahulu disarankan untuk melakukan operasi sedini mungkin agar proses perkembangan dan proses pembelajaran anak tidak terganggu. Namun seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran dalam alat bantu pendengaran, saat ini proses operasi pada microtia bilateral bisa ditunda sampai umur 6-7 tahun. Sehingga pada saat lahir sampai dengan umur 6-7 tahun anak akan dipasang alat bantu pendengaran atau BAHA (Bone Anchored Hearing Aids). Alat inilah yang rencananya akan dipasangkan pada Malik di usianya yang baru 7 bulan. Semoga dengan alat tersebut, Malik dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak sebayanya. Bagi Sahabat RST yang ingin berdonasi, Anda dapat menghubungi kami di line Customer Service (0251) 8618651 atau SMS layanan donasi di 087709923187. Salam #sehatmiliksemua.

1,022 total views, 11 views today