Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

NUR: DOKTER DAN PERAWATNYA SELALU MEMBERI SAYA SEMANGAT

JAMPANG – Akan ada secercah cahaya setelah gelap menyelimuti. Itulah yang diyakini oleh Ahmad, suami Nur Janah (35 tahun), “Insya Allah, Mba. Kalau kita berusaha, Allah ga akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Pasti ada jalan keluar.” Ujian hidup berupa kesulitan bukan sekali atau dua kali mereka alami. Panjang perjuangan mereka, dianggap warna-warna bagi keluarga kecil ini. Hebatnya, mereka selalu merasakan kasih sayang Allah tidak pernah luput. “Ada saja pertolongan. Dari mana saja. Itu membuat kita sangat bersyukur,” sambung Ahmad.  Dan di antara pertolongan tersebut adalah dikirimnya Mas Diki yang mempertemukan Nur Janah dengan Dompet Dhuafa.

Sosok Diki ini yang melihat kegigihan Nur, sapaan Nur  Janah, berusaha untuk menghidupi keluarganya. Berjualan baju di Tanah Abang yang mengharuskannya pulang tiga hari sekali. Berpindah-pindah kontrakan se-Tangerang karena tidak mampu membayar. Mengurus anak sulung, ibu, kakek, dan nenek, yang masing-masing membutuhkan perhatian khusus. Itu semua dilakukan Nur sendiri tanpa ada suami (yang pertama) yang mendukungnya. Mungkin diantara kita dapat menganggap yang dialami Nur adalah hal yang biasa. Banyak wanita lain di luar sana mengalami hal serupa. Namun, Diki melihatnya lebih dari seorang single parent. Karena semuanya dilakukan Nur dengan keterbatasan geraknya. Ya. Nur tidak bisa berjalan seperti wanita pada umumnya.

Matanya berlinang, merasakan haru, bahagia, dan sedih bercampur, saat memandang wajah bayi mungil di pangkuannya. Masa sulit itu seperti baru saja berlalu. Sekarang, ada Ahmad yang menggenapkan hidupnya, Allah pun mengkaruniai mereka seorang putri yang cantik yang lahir April ini. Selama masa sulit yang dilalui Nur, RS Rumah Sehat Terpadu DD adalah keluarga kedua baginya. Dari ia menjalani pengobatan TB tulang, operasi tulang belakang berulang kali, fisioterapi rutin, sampai ia melahirkan anak keduanya. Dari RS RST DD pertama kali diresmikan beroperasi hingga kini berkembang dengan segala fasilitasnya. “Dulu rumah sakit ini masih sepi. Pasiennya tidak seramai sekarang. Tetapi saya selalu ingat dokternya dari dulu sampai sekarang. Karena mereka tidak pernah berhenti menyemangati saya untuk sembuh,” Nur bercerita.

Pertama kali Nur ke RS RST DD, ada luka di tulang ekornya yang menyebabkan ia terinfeksi tuberkulosis. Luka itu sama sekali tidak terasa karena kerusakan saraf tulang belakang yang ia alami sejak tahun 2003. “Saya terjatuh dari ketinggian 8 m di tempat saya berkerja dulu. Lalu saya koma selama dua minggu,” imbuh Nur.  Operasi dan pengobatan pernah ia lakukan di rumah sakit di  Jakarta. Pengobatan itu dihentikan setelah diketahui dosis obat yang ia terima terlalu tinggi sehingga merusak sebuah ginjalnya, dan memaksa ia harus bertahan dengan sebuah ginjal yang tersisa.

Selama empat belas tahun, ia berjalan dengan menyeret tubuhnya. Ia lakukan saat mengurus neneknya yang stroke, bahkan saat bekerja sebagai buruh cuci dan berjualan di Tanah Abang. Nur tidak pernah berputus asa. “Kalau nikmat kaki saya diambil, saya kan masih bisa melalukan dengan cara yang lain,” ujarnya. Sifat inilah yang membuat Ahmad jatuh hati kepada Nur. “Walau sakit seperti ini pun, dia tetap selalu ingin membantu orang-orang di sekelilingnya. Bagaimanapun caranya. Kalau tidak punya uang, kan masih ada tenaga. Kemarin, ia merawat pasien kanker payudara di rumah, sampai beliau wafat. Orang mungkin tidak tahan dengan bau lukanya, tetapi dia (Nur) mau merawatnya,” Ahmad melirik kagum kepada istrinya.

Dokter dan suster yang merawat Nur puh melihatnya sebagai sosok yang ringan tangan dan pantang menyerah. Termasuk Sifing Lestari, Manajer Keperawatan RS RST DD yang bergitu terkesan pada sosok Nur, “Ia selalu membantu pasien di sebelahnya. Ibu Nur merasa kasian jika melihat pasien lain yang lebih tidak bisa berbuat apa-apa sedangkan dia bisa. Dengan bantuan kursi roda, ia tidak sungkan ia mengambilkan air hangat bagi pasien yang lain. Hebat. Ia lakukan itu sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah.”

Sedangkan dokter dan perawat di mata Nur, “Di sini saya seperti memliki keluarga baru. Mereka selalu memberi saya motivasi untuk berjuang sembuh. Saat saya sendiri, tak ada keluarga, merekalah yang menemani dan menyemangati saya. Dokter tulang, dokter penyakit dalam, dokter paru, dokter kandungan, sampai dokter saraf, selalu memberikan yang terbaik. Sampai saya hamil anak kedua, dokter saraf meyakinkan saya bahwa meskipun dengan pen panjang terpasang di tulang belakang saya, saya bisa melahirkan normal seperti ibu lainnya.”

Lebih dari itu, kebahagiaan Nur adalah kebahagiaan bagi RS RST DD dan Dompet Dhuafa, khususnya bagi donatur. Karena Nur adalah perantara berkah Allah bagi harta zakat dan wakaf para muzakki dan muwakif. Pelayanan kesehatan Nur yang terbaik adalah wujud pengelolaan dana ZISWAF yang amanah. Untuk sahabat yang ingin merasakan kebahagiaan serupa, dapat ikut mendonasikan hartanya ke rekening Yayasan Dompet Dhuafa Republika, BNI Syariah 1111.5555.64. Salam sehat milik semua. (pen: das)

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari Muslim)

362 total views, 1 views today