Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

DOSA JARIYAH VS AMAL JARIYAH

Segenap dari kita pastinya mengharapkan pahala yang tiada henti selepas meninggal nanti. Bahagianya manusia yang mendapatkan peluang tersebut. Hadits yang satu ini pasti terekam dengan tajam, bahwasanya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR Muslim)

Kata ” jariyah” diibaratkan dengan air yang secara terus-menerus mengalir dari sumbernya tanpa habis-habisnya. Maka, amal jariyah dalam bahasa Arab berarti amal yang mengalir, yakni perbuatan baik yang mendatangkan pahala bagi yang melakukannya, meskipun ia telah meninggal. Pahala dari amal perbuatan tersebut terus mengalir kepadanya selama orang yang hidup mengikuti atau memanfaatkan hasil amal perbuatannya ketika di dunia.

Lantas jika semasa hidupnya seorang manusia berkesempatan melakukan kebaikan dan keburukan, dan jika ada kebaikan yang pahalanya tidak terputus, apakah ada keburukan yang dosanya juga tidak terputus selepas wafat?

Jawabanya, ya. Al Ghazali menulis dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Sungguh beruntung orang yang meninggal dunia maka putuslah dosa-dosanya, dan sungguh celaka seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran kejahatan tersebut berjalan tiada hentinya.”

Ada yang namanya dosa jariyah. Dosa jariyah adalah dosa yang terus mengalir pada diri seseorang sekalipun orang itu telah meninggal dunia. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada orang tersebut, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu. Bagaimana seseorang dapat memperolah dosa yang tidak berhenti?

Pertama, jika ia menjadi pelopor atau inisiator suatu dosa. Dia merupakan orang yang pertama kali membuat suatu dosa atau memberikan inisiatif pada orang lain untuk melakukan suatu perbuatan dosa. Sehingga walaupun ia tidak mengajak orang lain untuk berbuat dosa, akan tetapi apa yang dilakukannya mnejadi sebab orang lain melakukan suatu perbuatan dosa.

Seperti apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya, “Tidaklah setiap jiwa yang terbunuh secara zalim, kecuali putra Adam yang pertama (Qabil) mendapatkan bagian dari dosa pertumpahan darah, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.” (Mutafaqun alaih).

Kedua, mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan dosa yang dilakukannya. Artinya, orang lain melakukan dosa karena ajakan atau pernah diajak olehnya untuk melakukan suatu perbuatan dosa. Sebagaimana dalam hadis disampaikan, “Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ketiga, menyediakan sarana bagi orang lain untuk melakukan suatu dosa atau membuat kebijakan dengan mengizinkan suatu tempat dipergunakan untuk melakukan kemaksiatan (lokalisasi). Orang lain dapat melakukan suatu perbuatan dosa di suatu tempat dikarenakan disediakan atau diizinkan untuk melakukan suatu perbuatan dosa di tempat tersebut.

Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa yang memprakarsai suatu keburukan dalam Islam maka ia mendapatkan dosa keburukan itu sendiri sekaligus dosa orang yang meniru perbuatannya itu, tanpa berkurang sedikit pun dosa-dosa mereka.” (HR Muslim)

(pen: das, ed: nj)

70 total views, 7 views today

Related posts