Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

TEROMPET DAN PENULARAN PENYAKIT

Musimnya tahun baru musimnya terompet dimana-mana. Angka penjualan terompet biasanya meningkat di masa itu, tetapi tidak untuk tahun ini. Seiring dengan pernyataan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang adanya potensi penularan penyakit difteri melalui terompet dikarenakan penyakit difteri dapat ditularkan melalui percikan ludah, bahkan hembusan nafas. Elizabeth Jane Soepradi (Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kemenkes) mengatakan, percikan ludah tersebut bisa keluar ketika seseorang meniupkan terompet. Sedangkan orang tersebut pun tidak bisa dipastikan bebas dari penyakit difteri.1

Mengingat penyakit difteri tengah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia, bahkan per Desember 2017 KLB difteri telah menjangkit di 28 provinsi serta 142 kota/kabupaten. Peristiwa tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan KLB tertinggi di dunia dibandingkan dengan negara Rusia, Brazil, dan Afrika Selatan.2 Bagaimana cara kita agar tetap waspada terhadap penularan difteri? Dan tidak memungkiri juga, terompet bisa saja menjadi media penularan penyakit lain khususnya penyakit pernafasan.

Sebagai alat musik tiup, air liur peniupnya bisa saja menempel pada mulut dan badan terompet. Apalagi jika terompet ditiup oleh anak-anak, ujung terompet kadang ditiup lama bahkan di’emut’ sampai basah. Terompet pun bisa berpindah dari anak satu ke anak lainnya tanpa pengawasan orangtua. Kekhawatiran semakin menjadi ketika orang tua tidak dapat memastikan langsung apakah anak-anak yang saling bertukar terompet tersebut adalah anak yang sehat.

Kemudian pertanyaan muncul, apakah bakteri tersebut dapat bertahan pada ujung terompet setelah digunakan sehingga masih memungkinkan terjadi penularan penyakit? Penelitian pernah menguji ketahanan bakteri patogen (yang dapat menimbulkan penyakit) pada alat musik tiup klarinet. Dari Staphylococcus, Streptococcus, Moraxella, Escherichia coli, dan Mycobacterium tuberculosis (yang dilemahkan) yang diujikan, semua bakteri dapat bertahan hidup 24-48 jam, kecuali Mycobacterium tuberculosis yang dapat bertahan hingga 13 hari.3 M. tuberculosis sendiri adalah bakteri penyebab TBC sedangkan Staphlococcus adalah bakteri penyebab penyakit pernafasan.

Tidak hanya bakteri, mikroorgasnime lain bisa tumbuh dan berkembang di bagian dalam alat musik, seperti jamur dan kapang yang juga dapat menularkan penyakit. Oleh karenanya disarankan untuk membersihkan alat musik (termasuk terompet) setelah digunakan, dengan tisu antiseptik, sabun dan air, atau disinfektan lainnya.4

Segi kebersihan inilah yang belum dapat dijamin dari penjualan terompet umumnya, mulai dari pembuatan sampai terompet tersebut berada di tangan konsumen. Bahkan sangat tidak disarankan untuk saling bertukar mulut terompet/alat musik tiup, apalagi jika diketahui terdapat salah seorang yang sedang sakit pernapasan atau sakit mulut.5

Saat meniup (terompet), udara beserta uap air dan air liur keluar dari mulut, sambil sesekali menghirup/menarik napas. Kita tentu bisa mencobanya saat bermain seruling. Makin lama meniup, makin banyak air  yang terdapat di dalamnya. Dan ketika seseorang akan membeli sebuah terompet, tentu ia akan mencobanya untuk memastikan alat itu dapat berbunyi dengan baik. Saat itulah terjadi kontak antar manusia melalui percikan/droplet air liur.

Terkait dengan momen ini  dr. Emilda, Sp.A, dokter spesialis anak RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, berpesan khususnya kepada ayah bunda, “Difteri menular melalui droplet (percikan cairan atau ludah), penularan dapat terjadi tidak hanya dari penderita namun juga dari karier (pembawa) baik anak ataupun dewasa yang tampak sehat kepada orang sekitarnya. Risiko penularan semakin tinggi pada anak yg tidak mendapat imunisasi atau imunisasinya tidak lengkap. Pengunaan trompet bisa saja berpotensi untuk menularkan tergantung kepada kontak dengan penderita dan waktu pengunaannya dari orang ke orang. Memang belum ada penelitian tentang hal tersebut tapi tidak ada salahnya kita lebih berhati-hati dan yang terpenting adalah pencegahan. Untuk itu mari lengkapi imunisasi anak-anak kita.” (pen: das)

1 http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/28/p1nx39384-kemenkes-sebut-terompet-berpotensi-tularkan-difteri
2 https://news.detik.com/berita/3775351/idai-klb-difteri-di-indonesia-paling-tinggi-di-dunia
3 Marshall, Bonnie dan Levy, Stuart. 2011. Microbial contamination of musical wind instruments. International Journal of Environmental Health Research, Vol. 21, No. 4, August 2011, 275–285
4 Tufts University, Health Sciences. “Sharing musical instruments means sharing germs.” ScienceDaily, 12 May 2011. <www.sciencedaily.com/releases/2011/05/110512091812.htm>.
5 Louisiana Office of Public Health—Infectious Disease Epidemiology Section. Infection Control and Musical Instruments. Revised 10/20/2010. http://new.dhh.louisiana.gov/assets/oph/Center-PHCH/CenterCH/infectious-epi/EpiManual/ICMusicalInstruments.pdf

500 total views, 2 views today