Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

OBESITAS DAPAT DATANG DARI KEBIASAAN MAKAN TERBURU-BURU

Banyak yang tidak nyaman dengan penampilan gemuknya. Ia merasa cemas dengan ukuran lingkar pinggang yang semakin besar, juga dengan bertambahnya risiko gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, strok, dan diabetes.

Obesitas atau kegemukan banyak sebabnya. Dari banyak faktor, cobalah evaluasi bagaimana cara Anda biasa makan. Karena ternyata sebuah penelitian di tahun 2008 membuktikan bahwa kecepatan makan seseorang mempengaruhi metabolisme makanan dalam tubuh dan risiko obesitas.

Kecepatan makan yang sudah terpola menjadi sebuah kebiasaan (dalam kurun waktu 5 tahun) diteliti oleh dr. Takayuki Yamaji, kardiologis (ahli jantung) dari Univeristas Hiroshima. Sebanyak lebih dari 1.000 responden penduduk dewasa (asal Jepang, rata-rata usia 51,2 tahun) dilibatkan dan mengkategorikannya berdasakan kecepatan makan, yaitu makan lambat, normal, dan cepat.

Hasilnya, 84 orang didiagnosa mengalami sindrom metabolik, yang berkaitan erat dengan kecepatan makan mereka. Apakah sindrom metabolik yang terjadi? Diantaranya obesitas di bagian abdomen/perut, tingginya tekanan darah dan gula darah puasa serta rendahnya kadar kolesterol HDL, yang notabene HDL sangat baik untuk melawan kolesterol LDL. Orang yang makan dengan cepat memiliki risiko sindrom metabolik, 6,5% pada orang yang makan normal, dan 2,3% pada orang yang makan lambat.1

Ketika seseorang makan dengan cepat, akan cenderung tidak merasa kenyang dan akan ingin makan lagi dan lagi. Makan cepat menyebabkan fluktuasi glukosa yang lebih besar, yang dapat menyebabkan resistensi insulin. Takayuki menambahkan pada presentasinya di American Heart Association’s Scientific Sessions tahun 2017 lalu, ia yakin bahwa hasil penelitiannya juga akan berlaku pada masyarakat Amerika. Dengan kata lain, berlaku juga untuk masyarakat manapun.

Insulin merupakan hormon yang disekresi oleh pankreas untuk mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh. Ketika mengonsumsi karbohidrat, tubuh kita akan mengubahnya menjadi glukosa. Sel-sel tubuh akan menyerap glukosa dibantu oleh hormon insulin, dan mengubahnya menjadi energi.

Sedangkan resistensi insulin adalah kondisi di mana insulin tidak lagi bekerja dengan semestinya. Pankreas tetap memproduksi insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak menyerap glukosa sebagaimana mestinya. Sehingga terjadi penumpukan glukosa di dalam darah, yang membuat kadar glukosa tubuh lebih tinggi dari ukuran normal.

Pada even yang sama, Dr. Nieca Goldberg, kardiologis dari New York University Langone menjelaskan mengapa makan dengan cepat memicu obesitas, “Anda mungkin makan lebih banyak karena Anda makan dengan sangat cepat. Anda benar-benar tidak tahu apa yang Anda makan. Bila Anda makan perlahan, Anda lebih sadar apa yang dimakan. Anda mengunyah makanan dengan benar dan juga memperlambat pencernaan. Dengan begitu juga membantu Anda merasa kenyang.” Sebaiknya makanlah setidaknya selama 30 menit dan hindari makan sambil bekerja.2

Semuanya sejalan dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw, dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, “Jika seorang di antara kalian makan, maka jangan tergesa-gesa sampai dia menuntaskan makannya, meskipun iqamah sudah dikumandangkan.”

Masya Allah. Dari setiap apa yang diajarkan oleh suri tauladan kita Nabi Muhammad saw merupakan panduan dan syariat dari Allah, yang merupakan panduan terbaik bagi kita untuk hidup sehat.

Dan dalam hadits yang lain, Allah menunjukkan kesukaannya pada hamba yang tidak tergesa-gesa. “Di dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, sabar dan tidak tergesa-gesa,” riwayat Imam Al-Bukhari. Lagi pula, sifat tergesa-gesa adalah sifat yang kurang baik seperti yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi, “Ketenangan berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.”

Menjaga kesehatan merupakan sebagian dari cara kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Dengan memantau kondisi kesehatan, seperti kadar gula darah dan tekanan darah, juga dengan memperhatikan pola/kebiasaan hidup kita, pola makan salah satunya, menjadi bagian dari ikhtiar kita menjaga kesehatan. Biasakan cek kesehatan rutin ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam #sehatmiliksemua. (pen:das)

Sumber:
1 Gobbling your food may harm your waistline and heart (14 November 2017) diakses pada 8 Januari 2018 dari https://medicalxpress.com/news/2017-11-gobbling-food-waistline-heart.html
2 Eating Too Quickly May Be Bad for Your Health (14 November 2017) diakses pada 8 Januari 2018 dari http://time.com/5023122/eating-fast-obesity/

387 total views, 2 views today