Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Donasi

KASIH IBU PATIMAH UNTUK RIDO

BOGOR (22/12) – Sesekali air mata menetes ke pipinya, saat duduk di Ruang Tunggu Perina RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya sakit. Pada tubuh mungil bayi yang baru genap 2 bulan, terpasang alat bantu napas (CPAP) dan selang infus syringe pump. Ibu mana yang tidak sedih ketika ia tidak bisa bebas memeluk dan menyusui anaknya karena terpisah oleh kotak inkubator.

Namun keadaan ini lebih baik baginya. Meski harus melihat Muhammad Rido (2 bulan) dari balik kaca, setidaknya kegamangan Patimah (42 tahun) mencari rumah sakit untuk anaknya, berkeliling seputar Cakung, Jakarta, hingga akhirnya tiba di tepi Bogor, bisa terobati di sini. Ditemani suaminya, Patimah membawa Rido ke IGD RS RST DD pada Selasa (13/12) malam. Beratnya 2.025 gram atau 2 kg lebih 25 gram, perutnya pun kembung, dan kulitnya tampak menguning. Diagnosa awal, Rido mengalami gizi buruk.

Perjuangan Patimah untuk Rido sudah diawali sejak Rido akan lahir. Waktu itu ketuban sudah pecah, tetapi Rido belum ‘mengajak’ keluar. Dokter menyarankan agar Patimah segera dioperasi sesar. Bingung bukan kepalang, kala itu Patimah harus menyediakan uang sebesar Rp 3 juta. Sepeserpun tidak ia genggam. Apa yang bisa ia tabung dari penghasilan suaminya yang hanya Rp 30 – 50 ribu per hari untuk ia dan kelima anaknya. Ia pun belum terdaftar di keanggotaan BPJS Kesehatan, apalgi asuransi yang lainnya. Hingga Rido pun ‘terpaksa’ lahir normal di rumah sakit. “Rido dari lahir memang kecil, sekitar dua kiloan, tapi Rido masih sehat dan baik-baik saja waktu itu. Selang sebulan, perut Rido mengembung. Kenapa bisa begitu saya juga ga tahu. Saya bawa ke puskesmas tapi masih tidak ada perubahan, terus saya cari rumah sakit kemana-mana. Sampai akhirnya saya disaranin untuk bawa Rido ke sini, alhamdulillah mau diterima (baca: ditangani),” tutur Patimah menceritakan kronologisnya.

Memang sebelumnya, dokter puskesmas pun menyarankan agar Rido ditangani di rumah sakit dengan peralatan kesehatan yang lebih lengkap. Sependapat dengan itu dr. Winda, Sp.A berpesan kepada Patimah, “Bayi Rido harus ditangani dengan lebih intensif dan peralatan yang lebih memadai. Sementara kami mempersiapkan rumah sakit rujukan, ia akan tetap dirawat intensif dan dipantau ketat oleh perawat perina kami seoptimal mungkin sambil dilakukan beberapa pemeriksaan.” Kondisi Rido memang saat ini belum memungkinkan dibawa ke rumah sakit lain. Ia berkali-kali henti napas sehingga CPAP harus dipasang untuk membantu napasnya, sekaligus menjaga agar saturasi oksigennya (sO2) – saturasi oksigen adalah presentasi hemoglobin yang berikatan dengan oksigen dalam arteri darah – tidak terus menurun. Tidak hanya itu, cairan lambung tampak menghitam dan fesesnya berwarna putih. Hasil lab menunjukkan adanya gangguan fungsi hati. Ia mengalami kolestasis – kolestasis adalah kegagalan aliran cairan empedu masuk ke dalam duodenum dalam jumlah yang normal – dan infeksi berat (sepsis).

Bayi Rido di dalam inkubator

Bayi Rido di dalam inkubator

Ada ikhtiar ada doa. Dalam doanya, Patimah hanya ingin melihat anaknya kembali sehat seperti keempat kakaknya. Dibantu dengan edukasi dari tim advokasi RS RST DD, suami Patimah pun mulai mengurus berkas-berkas terkait jaminan BPJS Kesehatan. “Saya dulunya ga ngerti soal BPJS dan urus berkas pindah dari Cakung ke sini. Namanya juga saya ikut suami. Terima kasih atas saran dan bimbinganya ya, Bu. Terima kasih telah membantu kami berjuang untuk Rido,” ujar Patimah sambil menahan air mata.

Kasih ibu sepanjang jalan. Berapa pun jauhnya jalan harus dilintasi, demi anaknya ia rela berjuang. Walau terbatas pendidikan, ia kan tetap berusaha untuk keberhasilan langkah anaknya. Kasih ibu sehangat mentari. Sehangat perut ibu, sehangat pelukan ibu sampai anaknya dewasa sekalipun. Saat ini Rido mungkin belum mengerti doa apa yang dilantunkan Patimah. Tetapi saat ia dipeluk Patimah, ia bisa merasakan degup debar jantung Patimah yang berharap untuk kesembuhannya. Saat ASI tiba di bibir tipisnya, ia bisa merasakan manis dan kelembutan, buah perjuangan keras orang tuanya berupaya demi dirinya. Dan ketika Rido besar nanti, mata hatinya sepatutnya bisa melihat garis bekas air mata di antara keriput wajah Patimah sebagai saksi atas masa panjang membersamainya.

Seminggu Rido dirawat di RST, Senin (20/12) alhamdulillah kondisi bayi Rido sudah memungkinkan untuk dibawa ke rumah sakit rujukan di Jakarta. Rido, syafakallahu syifa’an ajilan, syifa’an la yughadiru ba’dahu saqaman, semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya. Dan Selamat Hari Ibu untuk Ibu Patimah, semoga Allah memberikan jalan kemudahan dan keberkahan dalam ikhtiar ibu dan suami. Ayo bantu Patimah-Patimah lainnya yang masih bingung mencari biaya pengobatan anaknya dengan menyalurkan donasinya ke  BNI SYARIAH 1111 5555 64 an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Salam sehat milik semua dari RST DD, rumah sakit gratis bagi dhuafa, rumah sakit model wakaf.

612 total views, 1 views today

November 7, 20167 months ago

WAKAF PRODUKTIF, WAKAF TUNAI, & WAKAF TANAH: HUKUM, DALIL, & RUKUNNYA

Wakaf produktif, wakaf Al-Quran, wakaf tunai (wakaf uang), wakaf tanah, dan wakaf online menjadi fenomena belakangan ini. Makalah-makalah wakaf (PDF) berupaya menjabarkan arti wakaf, hukum wakaf (dasar dan dalil), rukun wakaf, tujuan wakaf, contoh wakaf, dan macam-macam wakaf. Secara pengertian, wakaf adalah menahan harta. Di Indonesia, kumpulan makalah terkait wakaf produktif (menurut pandangan Islam) sering menjabarkan pengelolaan wakaf dalam rangka pengembangan ekonomi umat. Termasuk, contoh-contoh wakaf non produktif (wakaf konsumtif). Di Kemenag, ada juga penjabaran ini.

Wakaf tunai (wakaf uang) dan wakaf online, mungkinkah? Sejarah wakaf tunai pun menjawab, “Mungkin!” Ini dalam perspektif Islam. Dengan adanya strategi wakaf tunai dan implementasinya, kita tidak perlu lagi menunda-nunda wakaf. Karena kita bisa berwakaf sesuai anggaran, kenyamanan, dan impian kita saat ini, bahkan mulai Rp 100 ribu. Dompet Dhuafa, amil yang berumur lebih dua dekade, melayani pengelolaan wakaf secara produktif dan profesional demi pengembangan ekonomi umat. Klik www.TabungWakaf.com

Saat Umar bin Khattab memperoleh tanah di Khaibar, ia menghadap Nabi Muhammad. Ujarnya, “Wahai Rasulullah, aku mendapat tanah di Khaibar. Aku belum pernah mendapat harta sebaik itu. Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Nabi pun bersabda, “Bila engkau suka, engkau tahan (pokok) tanah itu dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak pula diwariskan.” Lalu Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan dari tanah itu) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, dan tamu-tamu.

Menurut Kemenag, wakaf adalah perbuatan wakif (pihak yang melakukan wakaf) untuk menyerahkan sebagian atau seluruh harta-benda miliknya untuk kepentingan ibadah dan pengembangan ekonomi umat, selama-lamanya. Adapun pengelolaan wakaf tanah selama ini lebih cenderung untuk masjid (sekitar 45%). Masih sedikit untuk pesantren (sekitar 3%). Ippho Santosa bersama Dompet Dhuafa kini terlibat aktif dalam pembangunan pesantren. Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi, silakan transfer berapa saja ke BNI Syariah 700 7000 117 a/n Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Setidaknya, bantu doa dan share tulisan ini.

Tak cukup sampai di situ. Di SD dan TK Khalifah, anak-anak mulai dikenalkan dengan konsep sedekah, zakat, dan wakaf secara bertahap. Anak kecil berwakaf? Ya, karena wakaf adalah bentuk luas dari sedekah. Boleh dibilang bagian dari sedekah ekstrim. Kalau diterapkan, insya Allah mengundang perubahan. Benar-benar perubahan. Akhirnya, mari sama-sama kita terapkan. Jangan mau kalah sama anak SD dan TK.

Oleh: Ippho Santosa

760 total views, 1 views today

November 1, 20167 months ago

MENGANTAR SAMBIL BERBAGI: AKHIRNYA MIMPI NAIK FORTUNER JADI NYATA

BOGOR – Seperti hadiah dari langit, hari itu Jumat (28/10) Rojikin dan Samsudin mendapat kejutan dari RS RST DD berupa fasilitas antar pulang yang tak biasa. Bukan dengan ambulans, bukan pula dengan layanan ojek online seperti pasien lainnya, melainkan dengan mobil Fortuner.

Rojikin (49 tahun) dan Samsudin (52 tahun) adalah pasien hemodialisa di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Mereka sudah menjalani cuci darah setahun belakangan ini.

Cerita berawal dari Rojikin yang ditanya oleh direksi rumah sakit yang pagi itu sedang berkunjung ke unit hemodialisa. Rojikin mengaku layanan cuci darah di RST DD lebih ‘enak’ daripada rumah sakit tempat ia cuci darah sebelumnya. “Dulu kalau suster selesai cabut jarum HD, badan saya gemeteran. Saya juga sering drop di rumah,” tuturnya. Rojikin sendiri merupakan member kesehatan Dompet Dhuafa dan baru 6 bulan terakhir ini cuci darah di RST DD. “Ya, mungkin di sana alatnya sudah tua kali ya, Dok. Kalau di sini kan alatnya bagus,” sambungnya.

RST DD memang memulai pelayanan hemodialisa di tahun 2014 dengan 8 unit mesin HD. Dan di tahun 2016 ini, sebanyak 16 unit ditambah untuk meningkatkan layanan hemodialisa seiring naiknya kebutuhan pasien dhuafa terhadap cuci darah. Mengingat penyakit gagal ginjal kronis di Indonesia dewasa ini menjadi tren non-communicable disease (NCD) atau penyakit tidak menular setelah penyakit diabetes, jantung, stroke, dan hipertensi.

Ibarat dahulu naik angkot, sekarang naik mobil Fortuner, demikian analogi yang diambil oleh drg. Imam Rulyawan, MARS, Direktur RST DD. Efek fisiologis pengobatan yang lebih baik tersebut bisa dirasakan karena obat dan suplemen yang diberikan, yang sebelumnya tidak didapat di rumah sakit terdahulu. “Yah, Dok. Rasanya naik fortuner aja saya belum pernah nyobain,” celoteh Rojikin. “Wah, kalau begitu nanti pulang biar diantar dengan fortuner ya,” balas Imam sekaligus mengabulkan ‘mimpi’ Rojikin.

Tak hanya Rojikin, Samsudin teman senasib cuci darah Rojikin setiap Selasa dan Jumat pun bisa merasakan kebahagiaan Rojikin. Walau Samsudin bukan member kesehatan Dompet Dhuafa, yakni hanya menggunakan jaminan BPJS, Samsudin mengaku juga pelayanan kesehatan RST DD memang patut diacungi jempol. “Birokrasi BPJS di sini tidak dipersulit,” ujarnya.

Fortuner yang digunakan adalah mobil seorang relawan (tak ingin disebut namanya) yang tergugah hatinya, ingin ikut berbagi kebahagiaan dengan pasien. “Saya hanya berharap tetes bensin yang terpakai nanti bisa menjadi tabungan pahala di telaga surga nanti,” harap relawan tersebut.

Diantar oleh tim Humas RST DD, Rojikin dan Samsudin tiba dengan selamat di rumah masing-masing di bilangan Depok. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan sore itu. Rona berseri muncul dari wajah keluarga Rojikin dan Samsudin. “Alhamdulillah, Bapak bisa diantar Si Neng. Saya mah suka takut Bapak ngedrop. Saya juga ga bisa nganter. Ongkosnya mahal kan, Neng. Sayang,” istri Rojikin mengutarakan isi hatinya.

Mengantar pasien dengan mobil sendiri mungkin sederhana dan kecil bagi relawan. Tetapi besar artinya bagi penerima manfaat seperti Rojikin dan Samsudin. Mereka bisa menabung untuk kebutuhan makan keluarga esok harinya.

Dan masih ada Rojikin-Rojikin lain di luar sana, yang memerih Rp 40 ribu saja untuk bisa berangkat berobat ke rumah sakit. Mereka harus ‘bersaing’ dengan anggota keluarganya, yang sama-sama membutuhkannya untuk makan sehari-hari.

Rojikin adalah satu dari sejuta peluang berbagi kebahagiaan. Berbagi tak harus dengan uang. Berbagi bisa dengan apa yang kita punya tanpa harus menguranginya. Ayo ikut berbagi kebahagiaan dengan berdonasi meminjamkan kendaraan Anda untuk antar jemput pasien. Hubungi kami di nomor 087709923187 untuk informasi selanjutnya. Salam #sehatmiliksemua dari #rumahsakitgratisbagidhuafa. (das)

479 total views, 1 views today

September 23, 20169 months ago

KUSTA TIDAK MUDAH MENULAR, KUSTA DAPAT SEMBUH

BOGOR (22/9) – Tiga tahun terakhir, Mira (32 tahun) menguatkan kesabarannya. Sampai detik ini ia setia mengabdi kepada suaminya, Heri (29 tahun), merawat luka-lukanya dengan lembut dan telaten. Meski ia pun sadar ia adalah orang yang memiliki resiko penularan tertinggi dari penyakit Morbus Hansen yang diderita suaminya.

Morbus Hansen, atau kusta, atau lepra, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf tepi/perifer, selaput lendir/mukosa pada saluran pernapasan atas, serta mata. Sistem saraf yang diserang bisa menyebabkan penderitanya mati rasa. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Bakteri ini memerlukan waktu inkubasi yang panjang. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita selama 2 hingga 10 tahun. Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata 2-5 tahun. Setelah 5 tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ia tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki dan lutut.

Heri divonis menderita kusta sejak tahun 2014 lalu. Saat itu, mereka baru saja dikaruniai seorang anak yang berusia 4 bulan. Awalnya muncul ‘bentol-bentol’ di lengannya, rasanya tidak gatal tetapi sakit. Tak lama bentolnya merambah ke kakinya dan memunculkan luka. Badan Heri pun merasa sakit-sakit. Mira membawanya ke puskesmas, hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.

Penularan penyakit kusta tidak mudah yang dibayangkan, seperti hanya dengan satu kali sentuhan. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil penelitian bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit, belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI, 2002).

Kusta akan menular lewat interaksi aktif, misalnya pada anggota keluarga yang hidup bersama penderita kusta. Itu pun bila pihak keluarga tidak memperhatikan kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan, serta jika daya tahan tubuhnya rendah. Penularannya dipengaruhi oleh 5 faktor utama, yaitu: 1) bakteri kusta, 2) imunitas, 3) lingkungan, 4) umur, dan 5) jenis kelamin.

Bakteri kusta hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin. Ia dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 sampai 9 hari tergantung suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

Dengan demikian, kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah orang yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi lingkungan yang buruk seperti sumber air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menurunkan kerja sistem imun.

Kusta dapat disembuhkan. Penderita yang sembuh bahkan dapat kembali beraktifitas normal seperti semula. Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur.

Seperti penyakit infeksi bakteri pada umumnya, penderita kusta harus meminum obat rutin dan teratur sampai tuntas. Namun sayang, Heri memutuskan masa pengobatannya di tahun 2014 yang saat itu baru berjalan 5 bulan, karena mengeluh sering mual. Akibatnya, sebulan setelah pulang rawat inap, kondisi Heri melemah. Mira kembali menghela nafas dan menguatkan diri. Lagi, ia membawa Heri ke rumah sakit. Heri pun berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Bulan September 2016 ini, adalah kali keempatnya Mira merawat Heri di rumah sakit. Kondisinya makin memburuk. Kaki dan tangannya mengalami kontraktur otot dan kekakuan, sehingga ia hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Putus pengobatan yang berulang memperburuk keadaan Heri. Padahal pengobatan dilakukan agar bakteri kusta tidak berkembang yang bisa merusak saraf hingga mengakibatkan kecacatan. Diakui, memang ada efek yang seringkali membuat penderita berhenti minum obat. Efek tersebut misalnya kulit penderita menjadi hitam, air kencingnya merah. Tetapi, jika nanti sudah sembuh, kulit tersebut akan kembali seperti semula. Selain itu, ada pula yang  kedinginan hingga menggigil. Efek samping yang berat misalnya, kulit bisa melepuh atau mengelupas. Oleh karena itu penderita kusta harus ada yang mendampingi. Setidaknya pendamping tersebut, terutama keluarga akan bisa mengingatkan untuk selalu minum obat. Putus pengobatan yang berulang dapat membuat tubuh penderita menjadi kebal/resisten terhadap antibiotik.

Saat ini, Heri masih menjalani perawatan di ruang isolasi di Ruang Rawat Inap Al Aziz RS Rumah Sehat Terpadu. Mira sendiri menduga, Heri bisa saja tertular kusta dari tempat tinggalnya di kawasan Bekasi. “Dulu memang ada tetangganya yang terkena kusta, bahkan kakaknya pernah kusta juga. Tetapi mereka bisa sembuh. Mereka mau minum obat teratur sampai beres,” ujar Mira yang prihatin menlihat kondisi suaminya. Motivasi untuk sembuh adalah modal utama bagi Heri dan Mira untuk bebas dari kusta, dan menyelamatkan orang di sekitarnya dari kusta.

Edukasi kesehatan khususnya kepada masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah menjadi hal utama jika Indonesia ingin bebas dari kusta. Karena terjangkit kusta menimbulkan banyak kerugian, di antaranya: kehilangan sumber daya manusia produktif, menghabiskan biaya pengobatan, dan menurunkan kualitas hidup. Pada kasus Heri saja, sebelum ia menjadi member kesehatan di Dompet Dhuafa, ia harus rela menjual tanahnya untuk memenuhi biaya pengobatan dan kehidupan sehari-hari karena Heri kehilangan mata pencaharian.

Bagi sahabat RST yang ingin berdonasi untuk program kesehatan untuk pelayanan medis dan edukasi masyarakat, dapat disalurkan melalui nomor rekening BNI Syariah 1111.5555.64 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika, dengan melakukan konfirmasi ke nomor 087709923187. Salam #sehatmiliksemua dari #rumahsakitgratisbagidhuafa.

673 total views, 3 views today

Pages:1234...2728Next »