Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Donasi

Kunjungan Mr. Ranjiv Ghosh dari India ke RS RST DD

GANDENG TEKNOLOGI, TINGKATKAN LAYANAN KESEHATAN

BOGOR (9/8) – Kenyataannya, rasa kemanusiaan dan rumah sakit adalah dua hal yang tidak pernah lepas. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa berdiri untuk melayani kesehatan kaum dhuafa. Ternyata, RS RST DD tidak sendirian menjunjung nilai tersebut. Ada rumah sakit-rumah sakit lainnya yang peduli terhadap kesehatan kaum papah, diluar kesehariannya melayani pasien umum atau peserta asuransi. Dan hari ini sahabat sevisi itu datang jauh-jauh dari India ke rumah sakit model wakaf di Jampang, Kabupaten Bogor.

Mr. Ranjiv Ghosh, namanya. Sudah puluhan tahun beliau bergelut di bidang kesehatan khususnya dalam pengobatan penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, dan hati. Ada hal yang menarik yang dibincangkan, yaitu dari semua orang di dunia yang pergi keluar negeri untuk berobat, 57%* orang tersebut adalah penduduk Indonesia. Negara lainnya hanya mengambil bagian 1-2%. Beberapa alasan yang diambil adalah karena fasilitas kesehatan rumah sakit dalam negeri belum selengkap di luar negeri, atau tenaga medis luar negeri yang dianggap lebih kompeten. Padahal belum tentu penilaian itu benar sepenuhnya.

Tetapi berbeda jika domestik Indonesia mampu menyediakan apa yang diinginkan oleh para “turis medis” tersebut. Indonesia memiliki potensi yang besar. Oleh karenanya beliau tergelitik untuk berbagi pengalamannya dengan RS RST DD, sebagai rumah sakit istimewa yang tidak hanya melayani pasien umum dan BPJS, melainkan juga melayani kesehatan kaum dhuafa.

“Hal yang sama yang kami lakukan di India. Sekarang rumah sakit-rumah sakit disana berupaya untuk memberikan nilai humanis yang lebih dengan memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu. Di rumah sakit kami 10 operasi katarak per bulan digratiskan untuk program sosial ini,” tukas Ranjiv dalam ramah tamah bersama drg. Imam Rulyawan, MARS, Direktur Utama RS RST DD.

Mr. Ranjiv berkeliling rumah sakit melihat bentuk wakaf para muwakif

Mr. Ranjiv berkeliling rumah sakit melihat bentuk wakaf para muwakif

Pelayanan terbaik ditunjang oleh kemajuan teknologi di bidang kesehatan. “Kami memiliki teknologinya, alatnya, dan tenaga ahlinya. Perkembangan teknologi dapat meningkatan efisiensi proses pengobatan. Kami berharap, ini dapat membantu program sosial kesehatan di rumah sakit ini. Terutama bagi member dhuafa yang berobat di sini, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit lain apalagi ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas kesehatan terbaik,” sambungnya. Selama ini, Mr. Ranjiv bersama rekannya telah membangun kerjasama serupa di negara berkembang lain seperti Myanmar, Nepal, Nigeria, dan Kolombo.  Donasi kami membantu banyak bagi pengobatan masyarakat, khususnya kaum marginal. “Sebagai rumah sakit yang memberikan pelayanan hemodilasa, kami pun berharap demikian. Dengan adanya sumbangsih teknologi pengobatan ginjal dan hati juga penyakit kardiovaskular, semoga RS RST DD nantinya menjadi solusi kesehatan bagi masyarakat sekitar,” dr. M. Zakaria, Direktur Pelayanan Kesehatan, mengiyakan. (pen: das)


*Sumber:  “Overview of the development of Malaysia Healthcare towards Medical Tourism”, Dr Mary Wong Lai Lin, CEO of Malaysia Healthcare Tourism Council, 2012

80 total views, 2 views today

Foto bersama Ibu Sri Mulyaningsih Sugana (istri almarhum) dan putrinya

WAKAF POLIKLINIK, MENAMBAH MANFAAT DAN MENYAMBUNG YANG TERPUTUS

BOGOR (7/8) – Tanpa berkata panjang lebar, tanpa berkeliling jauh-jauh di rumah sakit wakaf pertama Dompet Dhuafa, Ibu Sri Mulyaningsih Sugana menyampaikan ini kepada kami, “Saya dan putri saya hanya ingin melihat apa yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit.” Pagi itu, istri almarhum prof. H. Sugana, dr, Sp.M bin Tjakrasudjatma bersama anaknya tiba dari perjalanan Bandung-Bogor.

Beliau datang untuk melihat secara langsung bagaimana dana wakaf dikelola untuk program kesehatan masyarakat dalam bentuk layanan rumah sakit. Bagimana di tahun keenam ini, RS RST DD tetap melayani kesehatan pasien dhuafa tanpa memungut biaya, dan melayani kesehatan pasien umum & BPJS secara amanah dan profesional. “Insya Allah, kami wakafkan dana senilai Rp 300 juta untuk pembangunan ruang poliklinik baru di sini atas nama suami saya,” beliau mengutarakan niat baiknya setelah tahu bahwa sebagai rumah sakit yang baru saja resmi sebagai rumah sakit tipe C, RS RST DD akan menambah ruang poliklinik spesialis di sayap Utara rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Putri alm. Sugana melihat area yang akan dibangun ruang poliklinik spesialis baru

Putri alm. Sugana melihat area yang akan dibangun ruang poliklinik spesialis baru

Semoga wakaf ini menambah aliran pahala untuk alm. dr. Sugana (14 Juli 1926 – 1 Desember 2014), sebanyak manfaat yang dirasakan oleh umat dari masa ke masa hingga akhir zaman. Semasa hidupnya beliau yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Padjajaran ini pernah menjabat Direktur RS Hasan Sadikin Bandung (1979 – 1985). Kepada keluarga alhmarhum, kami mengucapkan terima kasih karena telah menggenggam tangan kami menjadi perantara kebaikan tersebut. Salam #sehatmiliksemua dari #rumahsakitmodelwakaf (pen: das)


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah (Allâh) akan menghapuskan (kesalahan)nya karena sedekahku atas namanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam men-jawab, “Ya.” (HR. Muslim, Muslim, Ahmad, an-Nasa-i, dan al-Baihaqi)

199 total views, 4 views today

Kmunitas SJB berbagi di ruang rawat inap RS RST DD

SJB: JUMAT ITU HARINYA BERSEDEKAH

SEDEKAH JUMAT (21/7) – Sesuai dengan namanya, komunitas Sedekah Jumat Bogor (SJB) gemar bersedekah dan membuat hari Jumat menjadi lebih spesial dengan bersedekah. Mereka yang tergabung di dalamnya adalah muslim inspiratif, mengajak orang lain untuk gemar bersedekah di hari yang mulia, hari Jumat. Mengingat ada banyak keistimewaan nilai ibadah di hari raya umat muslim ini, seperti dalam hadits:

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)

Seperti yang dilakukan oleh Wina, salah satu anggota komunitas yang juga seorang ibu rumah tangga, bersama tiga orang ibu lainnya, hari ini adalah kali kedua SJB berbagi di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RS RST DD) setelah 24 Maret 2017 yang lalu.

Menjelang tengah hari, sebuah mobil putih melipir dekat lobi utama rumah sakit. Dari sana, keempat ibu hebat ini menurunkan 180 box paket makan siang yang siap dibagikan kepada pasien dan keluarga pasien yang sedang berobat di RS RST DD. “Alhamdulillah, ada donatur yang menitipkan rezekinya untuk pasien-pasien di sini, Mba,” ujar Bu Wina kepada Tim Humas RS RST DD.

Ada yang senang, ada yang takjub, ada yang terkagum-kagum, ada yang bersyukur sangat, dan ada banyak ekpresi keluarga pasien yang terekam siang itu. Ada juga raut bahagia nampak dari wajah ibu-ibu SJB pada Bu Wina dan kawan-kawan saat mengunjungi ruang rawat inap untuk membagikan ratusan paket nasi langsung kepada penerimanya. Bahagia karena melihat orang lain berbahagia. “Allahuakbar, saya baru kali ini menemui hal seperti ini, di rumah sakit ini. Terima kasih,” seorang bapak keluarga pasien IGD RS RST DD sontak memuji Allah saat menerima sekotak makan siang dari SJB.

SJB dan Tim Humas membagikan paket makan siang kepada keluarga pasien yang sedang menunggu

SJB dan Tim Humas membagikan paket makan siang kepada keluarga pasien yang sedang menunggu

Diinisiasi dari Bojonggede, SJB diprakarsai oleh Rina yang juga seorang ibu rumah tangga, yang memulai dari dirinya sendiri untuk membiasakan diri bersedekah di hari Jumat. Keutamaan sedekah dalam Islam tiada yang memungkiri. Banyak pahala dan hikmah dalam sedekah. Bahkan dalam keadaan sempit pun, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk sedekah, seperti dalam hadits:

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhal?’ Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah yang engkau berikan ketika engkau masih muda, pelit harta, bertumpuk angan-angan untuk hidup mewah, dan takut bangkrut.” (HR. Ahmad dan Nasai)

Dan teruntuk sahabat yang ingin berdonasi untuk keluarga dhuafa seperti SJB, baik itu berupa infaq, sedekah, maupun barang, dapat langsung menyalurkannya ke rekening BNI Syariah 0298 535 912 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika dan menghubungi tim Humas di nomor 0877 0992 3187 atau 0251 861 8651. Salam #sehatuntuksemua. (pen: das)

176 total views, 1 views today

Ibu Asturiyah (80 tahun) setelah mata kanannya dioperasi

ASTURIAH: MATA EMAK INGIN BISA MENGAJI LAGI

PARUNG (19/07) – Saat pulang dari rawap inap rumah sakit dan ditanya, “Betah dirawat di rumah sakit?” Sebagian besar bahkan hampir semua orang yang pernah dirawat akan menjawab seperti ini, senyaman-nyamannya rumah sakit, sekalipun itu ruang VIP, lebih nyaman tinggal di rumah, sehat wal afiat. Namun tidak bagi Mak Haji.

Ibu Asturiah namanya, tetapi tetangga-tetangganya akrab menyapa nenek yang berusia hampir 80 tahun ini dengan sapaan “Mak Haji”. Kalau ditanya, kapan beliau berhaji, “Dulu waktu Emak gadis,” jawabnya sambil senyum memandang masa lalu.

Dahulu, beliau hidup bertiga dengan suami dan anak semata wayangnya. Kini, Mak Haji sudah 40 tahun tinggal sendiri  di rumah petak ukuran tidak lebih dari 3 m x 3 m. Hanya sebuah ruangan, tanpa jamban. Satu tempat seadanya untuk menyimpan semua miliknya. Suami Mak Haji sudah lama wafat sedangkan anaknya hilang saat ikut pendakian gunung bersama teman-teman sekolahnya. Saudara yang paling dekat tinggal dengan Mak Haji adalah adik bungsunya. Kondisinya tidak berbeda jauh dengan Mak Haji. Tak ingin merepotkan keluarga adiknya, Mak Haji pun memutuskan untuk tinggal sebatang kara di rumah kecil itu.

Kesendirian beliau sesaat sirna oleh kehangatan keluarga di ruang rawat inap RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RS RST DD). Keluarga tersebut tak lain adalah dokter dan perawat yang memberikan perhatian kepadanya yang selama ini tidak dirasakan oleh beliau di petakannya di daerah Pamegarsari, Kampung Lebak Wangi, Parung. Yang membuat beliau menolak pulang dari rawat inap. “Emak ga mau pulang, emak di sini aja, biar Emak ada yang ngasih obat buat sebulan,” kata Emak saat dibujuk pulang oleh perawat seusai operasi katarak mata kanannya. Di masa tuanya sekarang, ada yang tidak ingin hilang dirasakannya, yaitu suasana hangat keluarga, diperhatikan, dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Terlepas dari perawatan medis, makanan yang enak, dan ruangan yang nyaman.

Mata kanan Mak Haji harus dioperasi karena katarak. Sebelumnya banyak yang menakut-takuti beliau tentang seramnya operasi mata. Namun tekad beliau kuat, “Emak pengen bisa ngaji lagi. Bisa melihat jelas lagi untuk bisa membaca Al Quran. Emak sedih, sudah lama Emak ga ikut pengajian karena mata Emak buram, ga bisa lihat Al Qur’an.” Subhanallah, keinginan luhur ini yang membuatnya berani. “Dokter dan perawatnya baik, jadi Emak ga takut. Malah kadang emak digodain (red: diajak bercanda),” tuturnya sambil terseyum. Ditangani oleh dr. Shinta Yoneva, Sp.M, alhamdulillah hari Selasa (18/7) lalu Mak Haji berhasil menjalani operasi katarak pertamanya.

Ibu Asturiyah diantar oleh Tim Humas RS RST DD ke rumahnya di Pamegarsari

Ibu Asturiah diantar oleh Tim Humas RS RST DD ke rumahnya di Pamegarsari

Menepis hidup yang kekurangan, sosok Ibu Asturiah adalah wanita yang ramah dan murah hati. Di lingkungan tempat ia tinggal, Mak Haji rajin mengikuti pengajian. Dalam hatinya ia yakin bahwa Allah Maha Baik dan hidupnya tidak akan terlantar. Kepada siapa saja yang baik kepadanya, memberinya makanan, zakat, ataupun mengongkosinya naik angkot untuk ke RS RST DD, Mak Haji pasti membalas dengan doa,  “Yang ikhlas ya, Nak. Semoga sehat jasmani dan rohaninya, murah rezekinya.” Pun ketika tim Humas mengantarnya pulang ke rumah dengan ambulans. “Emak, sementara tinggal sama adiknya dulu ya. Supaya ada yang bisa kasih obat untuk mata Emak,” bujuk Nurcholis sambil menjelaskan tata cara pemakaiaan obat mata kepada Ibu Asturiah dan adiknya.

Semoga Allah lekas memberikan pandangan yang terang kepada Mak Haji agar keinginan mulianya bisa terwujud. Membaca kalam mulia Al-Qur’an, yang akan meneranginya di akhirat nanti. Mak Haji memberikan teladan hidup kepada kita. Tentang Allah yang tak akan pernah menelantarkan hamba-Nya. Tentang dunia yang tak seberapa dibanding akhirat yang abadi kelak, sehingga kejar apapun demi itu.

Dan teruntuk sahabat yang ingin berdonasi untuk keluarga dhuafa, baik itu berupa infaq, sedekah, maupun barang, dapat langsung menyalurkannya ke rekening BNI Syariah 0298 535 912 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika dan menghubungi tim Humas di nomor 0877 0992 3187 atau 0251 861 8651. Salam #sehatuntuksemua. (pen: das)

272 total views, 2 views today

Pages:1234...2829Next »