Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Donasi

SENYUM TANTI UNTUK RASYID: KITA BERJUANG SAMA-SAMA, NAK

“Ya Allah, aku ingin sembuh,” kalimat ini yang mungkin  terucap jika Al Ashariansyah, bayi yang baru berumur hampir 3 bulan, bisa berbicara. Rasyid, panggilan sayang dari ibunya. Rasyid adalah satu dari ribuan bayi yang  mengalami hidrosefalus sejak dalam masa kandungan.

Lingkar kepalanya membesar sejak dalam kandungan

Hidrosefalus (kepala-air) adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebrospinal) atau akumulasi cairan serebrospinal dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.

Hidrosefalus yang dialami Rasyid tergolong hidrosefalus kongenital atau bawaan. Kondisi ini terjadi sejak bayi baru dilahirkan. Bayi yang mengalami hidrosefalus bawaan, kepalanya akan terlihat sangat besar. Ubun-ubun atau fontanel mereka akan tampak menggelembung dan menegang. Dikarenakan kulit kepala bayi masih tipis, penggelembungan tersebut membuat urat-urat kepala menjadi terlihat dengan jelas. Bayi-bayi dengan hidrosefalus, memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah dan otot-otot kaki terlihat kaku, serta rentan mengalami kejang.

Gejala-gejala hidrosefalus bawaan lainnya adalah mudah mengantuk, mual, rewel, dan susah makan. “Saya merasa kaget dan belum bisa percaya, Mbak. Saat dokter mengatakan bahwa bayi saya menderita penyakit hidrosefalus, saat di USG pada umur kandungan 8 bulan.” ucap Tanti (25), ibunda Rasyid, kepada petugas Bina Rohani Pasien (BRP). Rasyid pun harus dilahirkan segera dengan cesar. Sejak lahir 3 Oktober 2017 lalu, baru 3 bulan berat Rasyid sekarang sudah mencapai 10 kg. Rasyid sendiri sempat dirawat di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RS RST DD), dan kini sedang menunggu jadwal operasinya. Ia putra ketiga Tanti. Kakak pertamanya berusia 6 tahun dan yang kedua 1,5 tahun.

Dikemukakan oleh dokter yang menangani Rasyid, dr. Winda Setyawati, Sp.A (dokter spesialis anak RS RST DD), “Rasyid mengalami makrosefal (pembesaran area kepala), dan setelah dilakukan pemeriksaan CT Scan diketahui terdapat kesan hidreosefalus dengan penyebab obstruktif. Untuk selanjutnya kita akan konsultasikan ke dokter spesialis bedah saraf untuk pelaksanaan operasi pelaksanaan obstruksinya dan pemasangan shunt untuk mengurangi cairan yang sudah ada kepala menuju daerah abdomen sehingga cairan bisa di serap. Namun untuk operasi ini diperlukan keadaan yang baik, dalam segi klinis fisik pada pasien.”

Apabila telah dilakukan pemasangan shunt nanti, dr. Winda berpesan agar orangtua Rasyid dapat menjaga supaya tidak terkena infeksi dan memperhatikan asupan gizi guna penyembuhannya Karena memang perawatan Rasyid akan memerlukan waktu yang lama, dokter pun berharap orangtua Rasyid dapat bersabar melaluinya. “Saat ini pasien Rasyid sedang ditangani dulu untuk penyembuhan penyakit bronkopneumonianya, sambil dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menentukan diagnostik yang tepat serta meninjau kualitas gizi pasien, bekerja  sama dengan ahli gizi rumah sakit,” sambungnya.

Allah tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya

Sesekali mata Tanti berkaca-kaca saat menatapi Rasyid. Ujian terkadang tidak datang bertahap, melainkan mereka datang sekaligus bak hujan meteor. “Saya merasa sangat sedih, Mbak. Pernah ada niatan saya ingin mengakhiri hidup saya ketika Rasyid masih dalam kandungan saking depresinya. Coba Mbak bayangkan, yang seharusnya saya mendapatkan dukungan lebih tetapi malah kebalikannya. Suami saya semakin mengabaikan saya, anak-anak saja sudah tidak dibiayai hidupnya. Saya hanya manusia biasa, Mbak. Yang kadang khilaf dan iman saya masih lemah. Tapi alhamdulillah saya masih bersyukur dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Masih ada orang tua saya yang selalu mendukung walaupun orang tua saya sendiri juga dalam masalah ekonomi kekurangan,” tutur Tanti.

Beliau mengatakan berkeinginan untuk bekerja agar menghidupi anak-anaknya, karena selama di tinggalkan suaminya, Tanti dan ketiga anaknya mendapat bantuan dan belas kasihan dari orang tua dan saudara-saudaranya. Karena memang tidak ada pemasukan biaya hidup dari suaminya. Tanti mengaku sangat bersyukur dapat menjadi member di RS RST DD, “Ini adalah salah satu jalan yang dikasih Allah pada keluarga kami Mbak.”

Saat Tanti merasa berat menerima ujian, saat itu pula Tanti menguatkan dirinya untuk bangkit kembali. Karena seperti apa yang dinasihatkan oleh Imam Shadiq, “Seorang yang merdeka adalah orang yang merdeka dalam segala keadaan. Bila dia dalam kesulitan dia sabar, segala bencana tidak membuatnya berubah meskipun dia dipenjarakan, dikalahkan, dan dibuat susah. Kesabaran dan ketabahan senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena itu, bersabar dan tabahlah agar mendapat pahalanya. Setiap mukmin yang bersabar menanggung penderitaan, mendapatkan pahala seribu syuhada.”

Di titik kita merasa sangat terpuruk, sesungguhnya kita berada di titik yang semakin dekat dengan pertolongan Allah. Depresi ringan yang pernah dialami Tanti merupakan fitrah kelemahan seorang manusia di hadapan Penciptanya. Kelemahan itu dapat berubah menjadi kekuatan ketika orang-orang di sekitanya memberi semangat dan menumbuhkan keyakinan, bahwa pertolongan akan selalu ada untuk hamba-Nya yang mau bersabar dan terus optimis dan berprasangka positif terhadap Allah. Karena Allah mencintai orang-orang yang sabar. (pen: nj, ed: das).

65 total views, 3 views today

HUT KE-72 DITKUAD: BERSYUKUR DENGAN BERBAGI BERSAMA RUMAH SEHAT TERPADU DOMPET DHUAFA

Zona Madina (20/9) – Menjadi sebuah kehormatan bagi keluarga besar RS Rumah Sehat Terpadu dan Dompet Dhuafa, saat menerima kunjungan anjangsana rekan-rekan dari Direktorat Keuangan TNI Angkatan Darat (Ditkuad) dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Ditkuad ke-72 tahun pada Rabu 20 September 2017.

Pemberian bingkisan kepada pasien rawat inap anak di Ruang Al Jabbar

Pemberian bingkisan kepada pasien rawat inap anak di Ruang Al Jabbar

Diawali dengan sholat dhuha di Masjid Al Madinah Dompet Dhuafa, momen ulang tahun ini diisi dengan penuh rasa syukur. Hadir bersama rombongan, Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos (Direktur Keuangan TNI AD) dan Ibu Angelia Sasongko (Ketua Persit Kartika Candra Kirada Cab. XVIII PG Mabes AD) beserta jajarannya. Pada kesempatan ini, Ditkuad memberikan bingkisan berupa mainan edukasi dan keperluan sekolah kepada anak-anak keluarga member Dompet Dhuafa dan para pasien anak yang sedang dirawat di Ruang Rawat Inap Anak Al-Jabbar.

Acara ramah tamah

Acara ramah tamah

Tak hanya itu, sejumlah dana zakat, infaq, dan wakaf dari rekan-rekan Ditkuad Jakarta pun disalurkan kepada Dompet Dhuafa. “Kami selalu membudayakan sedekah dan berzakat. Melihat apa yang sudah dilakukan Dompet Dhuafa untuk Indonesia, dan salah satunya di Rumah Sehat Terpadu ini, kami semakin yakin lagi untuk bersedekah dan berzakat ke sini. SIP!” ajak beliau kepada rekan-rekan Ditkuad di ruang Aula Teater Dzikir dalam sambutannya.

Pemberian cenderamata dari RS RST DD kepada DITKUAD Jakarta

Pemberian cenderamata dari RS RST DD kepada Direktur Keuangan TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Bambang Suherman (Direktur Mobilisasi Zakat Dompet Dhuafa) selanjutnya, “Hiduplah tenang di rumah kita dengan membawa harta yang sudah bersih setelah dikeluarkan zakatnya. Hiduplah sejahtera dengan harta yang semakin bertumbuh dan berkah dengan infaq yang dikeluarkan di jalan Allah. Dan hiduplah bahagia setelahnya dengan pahala wakaf yang mengalir.”

Ibu Angelina Sasongko dan rekan menyapa pasien hemodialisa

Ibu Angelina Sasongko dan rekan menyapa pasien hemodialisa

Seperti halnya RS RST DD, rumah sakit wakaf Dompet Dhuafa yang pertama, yang diharapkan dapat menjadi role model inspiratif bagi rumah sakit wakaf atau rumah saklit sosial lainnya di Indonesia. Suasana rumah sakit dengan bangunan yang ramah lingkungan berkonsep green hospital serta memiliki fasilitas terbaik bagi pasien dhuafa, BPJS, dan umum tanpa memandang kelas, dapat dilihat dan dirasakan oleh rombongan Ditkuad saat hospital tour. Apalagi saat Bapak dan Ibu Sasongko menyapa pasien di Poliklinik dan Ruang Rawat Inap Al Jabbar, “Benar-benar homey dan nyaman. Ada pojok bermain dan program biblioterapi dari kakak-kakak perawatnya bisa membuat mereka lekas sembuh dan ceria lagi.”

Pemberian bingkisan kepada  anak-anak keluarga member Dompet Dhuafa

Pemberian bingkisan kepada anak-anak keluarga member Dompet Dhuafa

Kegiatan anjangsana dilanjutkan ke Sekolah Smart Ekselensia Indonesia di Dompet Dhuafa Pendidikan bersama Bapak Ismail A Said (Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika), disambut hangat oleh penampilan musik ansambel dari siswa- siswa terbaik se-Indonesia.

Foto bersama

Foto bersama

Jayalah terus TNI AD Indonesia dengan mewarnai negeri dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Bersama-sama kita memberikan sumbangsih terbaik untuk bangsa Indonesia. (Pen: das)

407 total views, no views today

Kunjungan Mr. Ranjiv Ghosh dari India ke RS RST DD

GANDENG TEKNOLOGI, TINGKATKAN LAYANAN KESEHATAN

BOGOR (9/8) – Kenyataannya, rasa kemanusiaan dan rumah sakit adalah dua hal yang tidak pernah lepas. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa berdiri untuk melayani kesehatan kaum dhuafa. Ternyata, RS RST DD tidak sendirian menjunjung nilai tersebut. Ada rumah sakit-rumah sakit lainnya yang peduli terhadap kesehatan kaum papah, diluar kesehariannya melayani pasien umum atau peserta asuransi. Dan hari ini sahabat sevisi itu datang jauh-jauh dari India ke rumah sakit model wakaf di Jampang, Kabupaten Bogor.

Mr. Ranjiv Ghosh, namanya. Sudah puluhan tahun beliau bergelut di bidang kesehatan khususnya dalam pengobatan penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, dan hati. Ada hal yang menarik yang dibincangkan, yaitu dari semua orang di dunia yang pergi keluar negeri untuk berobat, 57%* orang tersebut adalah penduduk Indonesia. Negara lainnya hanya mengambil bagian 1-2%. Beberapa alasan yang diambil adalah karena fasilitas kesehatan rumah sakit dalam negeri belum selengkap di luar negeri, atau tenaga medis luar negeri yang dianggap lebih kompeten. Padahal belum tentu penilaian itu benar sepenuhnya.

Tetapi berbeda jika domestik Indonesia mampu menyediakan apa yang diinginkan oleh para “turis medis” tersebut. Indonesia memiliki potensi yang besar. Oleh karenanya beliau tergelitik untuk berbagi pengalamannya dengan RS RST DD, sebagai rumah sakit istimewa yang tidak hanya melayani pasien umum dan BPJS, melainkan juga melayani kesehatan kaum dhuafa.

“Hal yang sama yang kami lakukan di India. Sekarang rumah sakit-rumah sakit disana berupaya untuk memberikan nilai humanis yang lebih dengan memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu. Di rumah sakit kami 10 operasi katarak per bulan digratiskan untuk program sosial ini,” tukas Ranjiv dalam ramah tamah bersama drg. Imam Rulyawan, MARS, Direktur Utama RS RST DD.

Mr. Ranjiv berkeliling rumah sakit melihat bentuk wakaf para muwakif

Mr. Ranjiv berkeliling rumah sakit melihat bentuk wakaf para muwakif

Pelayanan terbaik ditunjang oleh kemajuan teknologi di bidang kesehatan. “Kami memiliki teknologinya, alatnya, dan tenaga ahlinya. Perkembangan teknologi dapat meningkatan efisiensi proses pengobatan. Kami berharap, ini dapat membantu program sosial kesehatan di rumah sakit ini. Terutama bagi member dhuafa yang berobat di sini, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit lain apalagi ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas kesehatan terbaik,” sambungnya. Selama ini, Mr. Ranjiv bersama rekannya telah membangun kerjasama serupa di negara berkembang lain seperti Myanmar, Nepal, Nigeria, dan Kolombo.  Donasi kami membantu banyak bagi pengobatan masyarakat, khususnya kaum marginal. “Sebagai rumah sakit yang memberikan pelayanan hemodilasa, kami pun berharap demikian. Dengan adanya sumbangsih teknologi pengobatan ginjal dan hati juga penyakit kardiovaskular, semoga RS RST DD nantinya menjadi solusi kesehatan bagi masyarakat sekitar,” dr. M. Zakaria, Direktur Pelayanan Kesehatan, mengiyakan. (pen: das)


*Sumber:  “Overview of the development of Malaysia Healthcare towards Medical Tourism”, Dr Mary Wong Lai Lin, CEO of Malaysia Healthcare Tourism Council, 2012

494 total views, no views today

Foto bersama Ibu Sri Mulyaningsih Sugana (istri almarhum) dan putrinya

WAKAF POLIKLINIK, MENAMBAH MANFAAT DAN MENYAMBUNG YANG TERPUTUS

BOGOR (7/8) – Tanpa berkata panjang lebar, tanpa berkeliling jauh-jauh di rumah sakit wakaf pertama Dompet Dhuafa, Ibu Sri Mulyaningsih Sugana menyampaikan ini kepada kami, “Saya dan putri saya hanya ingin melihat apa yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit.” Pagi itu, istri almarhum prof. H. Sugana, dr, Sp.M bin Tjakrasudjatma bersama anaknya tiba dari perjalanan Bandung-Bogor.

Beliau datang untuk melihat secara langsung bagaimana dana wakaf dikelola untuk program kesehatan masyarakat dalam bentuk layanan rumah sakit. Bagimana di tahun keenam ini, RS RST DD tetap melayani kesehatan pasien dhuafa tanpa memungut biaya, dan melayani kesehatan pasien umum & BPJS secara amanah dan profesional. “Insya Allah, kami wakafkan dana senilai Rp 300 juta untuk pembangunan ruang poliklinik baru di sini atas nama suami saya,” beliau mengutarakan niat baiknya setelah tahu bahwa sebagai rumah sakit yang baru saja resmi sebagai rumah sakit tipe C, RS RST DD akan menambah ruang poliklinik spesialis di sayap Utara rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Putri alm. Sugana melihat area yang akan dibangun ruang poliklinik spesialis baru

Putri alm. Sugana melihat area yang akan dibangun ruang poliklinik spesialis baru

Semoga wakaf ini menambah aliran pahala untuk alm. dr. Sugana (14 Juli 1926 – 1 Desember 2014), sebanyak manfaat yang dirasakan oleh umat dari masa ke masa hingga akhir zaman. Semasa hidupnya beliau yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Padjajaran ini pernah menjabat Direktur RS Hasan Sadikin Bandung (1979 – 1985). Kepada keluarga alhmarhum, kami mengucapkan terima kasih karena telah menggenggam tangan kami menjadi perantara kebaikan tersebut. Salam #sehatmiliksemua dari #rumahsakitmodelwakaf (pen: das)


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah (Allâh) akan menghapuskan (kesalahan)nya karena sedekahku atas namanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam men-jawab, “Ya.” (HR. Muslim, Muslim, Ahmad, an-Nasa-i, dan al-Baihaqi)

573 total views, no views today

Pages:1234...2930Next »